DKP CIPTAKAN PROYEK PPI KORUPSI
JIN CURI AMANAH UANG NEGARA.
Sukadana ‘’ JURNAL LAKI ’’
Kabupaten Kayong Utara (KKU) Kalbar, jln. Tanah Merah,
Pulau Semane, Lokasi Pantai Salah Name. Proyek Pelabuhan Penampungan Ikan (PPI) Kab.Kayong Utara
(KKU)
Sukadana Kalbar,
setiap tahun di anggarkan pembangunan proyek PPI, bantuan nelayan kecil dan
bantuan bibit penangkaran rumput laut., dana anggaran tahun 2011-2013 dengan
pagu dana ± Rp. 15 milyar, anggaran APBN. PPI di bangun dengan
sumber dana DAK (dana alokasi
khusus) dilaksanakan :PT. Heroperkasa
Primamakmur dengan nilai
kontrak Rp.1.649.565.000,- tahap satu,
tahap dua Rp.3.423.610.000,- dan tahap tiga dengan pagu dana Rp. 9.254.022.000; anggaran APBN tahun 2013
dengan No. SP: 01/FS.LU/DKP/2013 tanggal 15 Juli 2013, yang mana pemenang
lelang dan pelaksana PT. ABDI JASA TAMA.
Bangunan pelabuhan (PPI) Sukadana
KKU hanya sebagai kamuplase tidak sesuai
dengan Sfek dan
Drap,
seharusnya Proyek PPI tersebut untuk mensejahterakan masyarakat Nelayan
tradisonal yang masih dalam garis kemiskinan, yang di
utamakan malah membangun (PPI) dengan
mengeluarkan dana yang cukup besar
mencapai belasan
milyard yang tidak ada Azas manfaatnya sampai saat ini, dan bangunan tersebut sudah sangat
memprihatinkan, tongkat
bangunan sudah banyak yang condong dan
mau patah/genting dan tumbang kelaut, semua pekerjaan (PPI)
tidak sesuai dengan manajemen Pengadaan Barang/Jasa dan peraturan kepala
LKPP N0:6 Thn 2012 tentang petunjuk teknis No:70
Thn 2012.
Dana yang dianggarkan ± Rp. 15 milyar, tapi yang
terealisasi ± Rp. 5 milyar saja, saat
ini dan detik ini tidak ada solusi semua fiktif terindikasi keras proyek PPI
DKP tidak terealisasi sempurna tahap I dan TahapII, sedangkan dana kelar
100%. Tahap III dibangun dengan dana APBN, terkesan pelaksana pekerja dan
pengadaan barang/jasa tidak berdasarkan desain gambar yang ada, dan tidak
mengikuti petunjuk kontrak proyek,’’
kata inisial JM. Lanjut konfirmasi kepada JM,’’ pekerjaan Pelabuhan
Pendaratan Ikan (PPI) yang diciptakan DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan) Kab.
Kayong Utara Kalbar asal kerja saja. Besi memakai besi yang lama yang sudah
karatan, pekerjaan yang lama ditempel dan disambung dengan akal tipu daya
muslihat agar semua nampak dan jelas pekerjaan proyek DKP disebut perehapan
pesempurnaan, seolah-olah pekerjaan semua desain baru, tapi yang ada pekerjaan
lama dan menggunakan alat besi yang lama, itulah suatu pekerjaan akal-akalan
dan dipaksakan, bukti yang ada semua bahan yang ada banyak yang terbuang dan
mubajir, seperti tongkat beton di rusak
dan dibuang kelaut. Itu semua uang Negara bukan uang pribadi kepala
Dinas DKP Sukadana, tegas kelakar JM.
Terpisah ‘’Rajawali News konfirmasi bersama
wakil DKP
di ruang kerjanya, dikatakan M. Mustam,
”Pimpinan DKP keluar daerah ke Jakarta. Rajawali News
menggiring pertanyaan kepada M. Mustam,” kapan datang dan apa Visinya? Lanjut
kata M. Mustam,” tidak tau kapan datangnya Kadis DKP dari Jakarta, visinya
mengurus anggaran proyek PPI di Sukadana dan di Pulau-pulau yang terisolir,
pungkasnya M. Mustam selaku wakil DKP
Kab. Kayong Utara (KKU) Kalbar.
Rajawali News investigasi beserta masyarakat putra
daerah Sukadana, benar temukan proyek DKP yang dikerjakan tidak mendasar azas
fungsi dan manfaat seperti, tongkat PPI, Lantai PPI, Kantor PPI, dan Wc PPI
semua dihitung berdasarkan RAB, tapi yang ada dilapangan tidak berdasarkan RAB
dan tidak masuk dalam harga satuan barang/jasa. Terkesan disinyalir data
petunjuk RAB dan satuan barang dicatut dari harga satuan pengadaan, fiktif A1
contoh besi lama yang sudah aus dan berkarat yang dipakai. Intimidasi karena
jabatan dan kekuasaan integritas karakter kontraversi aktivitas akomolasi
penyakit angkut korupsi, akses proyek PPI di Kabupaten/Kota dan Kecamatan Pulau
Maya Karimata contoh: Bantuan alat
tangkap dan bantuan penangkaran rumput laut yang ada perkelompok 10 kg, yang
tersalur perkelompok hanya 1 kg, semua dicatut dan di manipulasi. Estiminasi
inspirasi kedudukan dan jabatan maupun kekuasaan dipergunakan selaku alat untuk
mencekik dan membunuh masyarakat yang kecil secara pelan namun pasti, dengan
trik tipu daya muslihat, terindikasi jaringan penguasa dan pejabat kelas kakap
sakral spesies mahkluk penghisap manusia miskin yang sekarat, terutama
masyarakat yang hidup di pulau-pulau terpencil.
Kadis DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan) Kab. Kayong Utara (KKU) Kalbar,
disinyalir sarang jin pencuri dan penyamun uang Negara, dirancang suatu proyek
untuk tamengplase sebuah proyek Misteri, Jin Curi Uang Negara untuk pribadi dan
individu. SANTON selaku Kadis DKP Sukadana Kalbar sebagai pengguna Anggaran dan
Kabid Perencanaan serta PPK harus bertanggungjawab dengan Amanah uang Negara
untuk rakyat khususnya Kab. Kayong Utara (KKU) Sukadana Kalbar. DKP Sukadana
untuk mengembalikan krisis kepercayaan masyarakat jelata yang sangat tertindas
dan dibodohi pejabat di bidang roda pemerintahan dalam pembangunan dan ketentraman
masyarakatnya, diharapkan kepada Super Power hukum untuk membentuk Team Survey
investigasi harga satuan Proyek DKP PPI di Sukadana, PPI di pulau Karimata,
Desa Betok dan Padang. Audit Pelelangannya, Audit pengadaannya, Audit
Pekerjaannya, Audit Proses tender yang terkesan bermasalah dan dipaksakan, sampai
saat ini instansi Penegak hukum selalu tajam dan Elegan, jangan lebay terhadap
penguasa daerah dan pejabat daerah. Apakah Hukum takut bersama pemimpin daerah
atau penguasa pejabat daerah. di Sukadana Kab.kayong Utara Kalbar. (Jangan
katakan itu) Pembuat hukum dan UU saja di hukum seperti Akil Mochtar saja
sekarang terhukum dan Joko Susilo kasus Simulator SIM Samsat berbintang 2 tetap
masuk jeruji besi tanpa ampun,’’ jangan salahkan hukum.’’ Kacau DKP Sukadana
Kalbar, keserakahan Pemimpin Daerah yang di balut janji, dia tidak pernah perduli dengan berapa sih hukum partai, korupsi
yang penting. Kresek hitam nanti berisi nasi, sebenarnya dia tau, dia mengerti,
dia peduli dalam hati apalah tujuan orang berdasi, bikin obral janji sana sini
jika akhirnya masuk bui, yaaa….seperti aku loper koran, biar aku tak berdasi, dan
alas kaki tidak bertopi, tapi aku damai bersama koranku. Oooh.. bukannya ini
orang yang terpampang wajahnya besar sekali di halaman paper depan Koran dengan
judul korupsi jin curi uang Negara, mengakibatkan meningkatnya kemiskinan, kebodohan
dan kesengsaraan masyarakat dikarenakan Korupsi para penguasa nan berdasi berlabel
Cap tikus. Masalah sosial, biologi, budaya yang terpuruk, terhimpit dan
terkontaminasi ke lembah penyakit miskin melarat permanen, akibat ulah prilaku
Penguasa berhati Jin Lanon, cermin melaratnya umat masyarakat.’’ Adanya mata
rantai pejabat dan penguasa bejat berhati srigala berwajah lanon, sungguh naïf
kejahatan mengerogoti amanah uang Negara untuk rakyat, pejabat dan penguasa,
keserakahan dan ketidak adilan instrument potensi imunisasi sontek infus
imajinasi blackemping, perbuatan pembunuh berdarah dingin buat masyarakat
jelata nan lemah dengan trik tipu daya muslihat, dirancang terorganisir
menghantam perekonomian rakyat, dari uang Negara untuk rakyat, dari hasil alam,
APBD, APBN, dan BUMN khususnya Kab. Kayong Utara (KKU) Sukadana Kalbar. Melalui peranserta masyarakat di jaman
demokrasi tegakkan hukum dan kepastian hukum, libas korupsi dengan koordinasi,
supervise, Sidik - Lidik, pemeriksaan ahli hukum dengan hak-hak rakyat yang
digarong dan dirampas, menurut : UU No. 30 Tahun 2002 tugas KPK dalam Pasal 6
meliputi: koordinasi Pasal 7 supervisi, Pasal 8 Sidik dan Lidik dan penuntunan
Pasal 11 serta monitoring Pasal 14. Menganut konstitusionalisme konsep Negara
hukum dan prinsip demokrasi, kejujuran adalah kesederhanaan yang teramat murah.
**(Yn
0086)



Gambar: Bangunan PPI Tahap III dan Tahap I asal
kerja, Plang DKP dan Photo Kadis DKP. BPK SANTON.
Komentar
Posting Komentar